>Tentang sesama pria dan sesaama wanita yang saling suka,.. (mo gmana lagi)


>

gw bingung setelah mendengar salah seorang teman wanitaku ku telah mempunyai pacar,.. namun bukan sembarang pacer,.. pacarnya seorang wanita muda usia 20tahuan mais imuet,.. munkin bagi anda yang tak terlalu memperhatikah adalah hal biasa tapi coba tela’ah lagi tulisan diatas (teman wanitaku ku telah mempunyai pacar,.. namun bukan sembarang pacer,.. pacarnya seorang wanita muda usia 20tahuan)huh pusing,.. gmana cara supaya dia bisa kembali ke pelukan laki” lagi,..
ya Allah,..kenapa jadi begini.. teman dekatku sendiri,..
disini ada cerita tentang penyuka sesama jenis (lesbian) moga dengan copy paste tulisan ini kita bisa waspada atas bujukan, teman or yang baru kita kenal,…
Ketika Orientasi Seksual Barubah akibat Bujukan Teman (2)
Berjanji Setia sampai “Kakek-Nenek”, di Indekos Mengaku Kakak-Adik
Sama seperti cerita Jo (Kaltim Post edisi kemarin) yang menyukai sesama jenis. Sebut saja Jeni, dia juga penyuka sesama jenis. Sesama perempuan. Di usianya yang 27 tahun, Jeni memilih hidup dengan kekasih perempuannya yang dia kenal sejak 7 tahun lalu. Bahkan, mereka berjanji setia sampai “kakek-nenek”.

PEREMPUAN ini tampaknya suka merawat diri. Terlihat dari kulitnya yang putih bersih. Tubuhnya jenjang layaknya model. Rambutnya ikal menggantung sepunggung berwarna pirang. Rambut itu produk hair extension (penyambungan rambut).

Ketika media ini mengajak berbincang, senyum mungil berkali-kali dilemparkan lewat bibir tipisnya yang dihiasi lipstik warna pastel. Tutur bahasanya nyaman. Dia menceritakan, sekitar 10 tahun lalu, dia pindah ke Samarinda.
Jeni berasal dari Long Lalang, Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar). Ketika itu dia baru lulus SMA. Hijrahnya ke Samarinda adalah untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, tepatnya ke Universitas Mulawarman (Unmul). Dia mendaftar ke Fakultas Ekonomi (Fekon). Tapi Jeni kurang beruntung, namanya tidak masuk dalam daftar mahasiwa yang diterima.
Ternyata hal itu tidak sendirian dia alami. Saat pendaftaran masuk kuliah, Jeni bertemu perempuan seumurannya, sebut saja Imel.
Imel berasal dari Palembang. Dia sekolah di SMA unggulan Samarinda, namun entah mengapa, Imel juga tidak diterima di Unmul. Imel kemudian memutuskan menjadi sales promotion girl (SPG) produk rokok. Jeni yang bingung mau kemana, ditawari tinggal satu indekos bersama Imel yang sejak SMA memang sudah mandiri.
Jeni juga ditawari bekerja sebagai SPG rokok. Gajinya dianggap lumayan. Kala itu selesai satu event, Jeni mendapat uang Rp 700 ribu. Akhirnya dia “ketagihan” bekerja. Selama 2 tahun Jeni lupa dengan tujuan utamanya ke Samarinda, yakni, untuk kuliah.
Bahkan karena sudah punya uang, Jeni indekos sendiri. “Saya bilang pada orangtua di kampung, saya kuliah sambil bekerja. Saya dulu pulang setahun dua kali,” ujar anak pertama dari 5 bersaudara ini.
Pada tahun ketiga di Samarinda, Jeni kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Tepian. Saat itulah Jeni menjalin cinta dengan lelaki dari fakultas berbeda. Jeni mengaku sangat mencintai pacarnya itu, yang selalu menemani Jeni.
Tetapi semua itu ternyata hanya meninggalkan luka begitu dalam bagi Jeni. Bunga cintanya selama 6 bulan, ternoda ketika Jeni memergoki pacarnya berselingkuh di depan matanya.
“Setelah mengantar saya ke kampus, pacar saya minta izin tinggal di indekos untuk istirahat sambil menunggu saya pulang,” kata Jeni. Sesampai di kampus, ternyata tidak ada kuliah, Jeni pun pulang.
“Sampai di kos, ternyata saya lihat pacar saya berhubungan intim dengan perempuan lain. Parahnya, itu dilakukan di kasur saya. Saat itu juga saya marah besar dan pergi ke kos Imel, selama seminggu,” kenang gadis kelahiran 20 Juni 1984 ini, dengan nada sendu.
Jeni tidak mau banyak bercerita soal kenangan pahit itu, karena menurutnya hanya akan membuat hatinya kesal. Trauma itu membuat Jeni tidak percaya lagi dengan lelaki dan tidak mau lagi berpacaran.
Selama seminggu, hanya Imel yang begitu berperan dalam hidup Jeni, memberi nasihat dan ketenangan. Saat itu, Jeni mengaku butuh seseorang yang dewasa dan hanya Imel yang membuatnya nyaman.
Tetapi, Jeni mulai aneh dengan perilaku Imel yang berlebihan. Saat tidur, Imel selalu memeluk Jeni dan menciuminya. “Awalnya saya merasa aneh dan tidak biasa. Apalagi ketika diajak berhubungan intim, namun saya mulai terbiasa dan menikmati ketika sering berbicara tentang hal itu dengan Imel,” jelasnya sambil tersenyum renyah.
Jeni sekarang bekerja di salah satu kantor dengan gaji lebih tinggi dibanding saat dia jadi SPG. Hingga sekarang, Jeni dan Imel hidup bersama, satu atap, satu kamar.
Imel tidak kuliah, hanya bekerja. Mereka indekos di Jalan Juanda, Samarinda. Tetangga tidak ada yang mengetahui jati diri mereka. Setiap kali ditanya, mereka mengaku kakak-adik.
Jeni menjelaskan, lesbian (perempuan penyuka sesama jenis) memiliki komunitas sendiri. “Tapi baru ada di Balikpapan. Kalau di sini masih tabu dan tidak terlalu tampak. Susah mengenalinya kecuali dengan kode khusus,” bisiknya dengan mimik agak nakal.
Kaum lesbian memiliki beberapa kode, yang mereka namakan “label”. Di antaranya, butch, femme, dan androgini. Untuk label butch, perilakunya cenderung seperti lelaki. Sedangkan femme berperan sebagai pasangan (perempuan). Berbeda dengan androgini yang perilakunya lebih bebas; bisa sebagai laki-laki, bisa perempuan.
“Biasanya kalau kami bertemu perempuan dengan gerak-gerik meyakinkan (bahwa dia lesbian, Red.), untuk memastikannya kami selalu tanya apa labelnya. Kalau dijawab, berarti dia sama seperti kami. Jika dia kebingungan, kami tidak meneruskan pertanyaan,” jelasnya.
Menurut Jeni, Imel itu berlabel butch, karena berperilaku layaknya lelaki. Gayanya simple, tidak terlalu suka berdandan. Menurut Jeni, Imel penuh kasih sayang dan suka memanjakan femme-nya.
Saat ditanya sampai kapan ingin terus bersama Imel, Jeni hanya tersenyum kecil. Bahkan dia juga tidak berharap kembali seperti perempuan pada umumnya yang menyukai lelaki. “Kalau bisa, saya ingin seperti ini sampai tua. Saya menikmati hidup seperti ini, selama tidak ada yang mengganggu,” katanya, mengakhiri perbincangan
bersambung 
ADI CHANDRA, Samarinda

About lassun

The first child of three brothers who try to exist in the blogging world, to be able to search for identity

Posted on 31 January 2011, in Tak terkategori. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: